
Perempuan Peduli Jakarta menolak Basuki Purnama alias Ahok untuk kembali menjadi gubernur Jakarta 2017. Mereka menilai, Jakarta saat ini membutuhkan pemimpin yang santun dan bisa bergaul dengan warganya tanpa harus ada kata-kata kasar.
Koordinator Kaum Perempuan Peduli Jakarta, Evelyn Tan menegaskan, pemimpin Jakarta harus bisa mengajak masyarakat berpartisipasi membangun kotanya, apalagi ibukota negara.
Menurut Evelyn Tan, Jakarta harus dipimpin gubenur yang bersahabat dengan warganya, mulai warga kalangan miskin sampai kelas atas.
Dikatakan Evelyn, masyarakat Jakarta yang terdiri dari para pendatang tentu memiliki adat dan istiadat yang sama, yaitu mengedepankan kesantunan dalam berkomunikasi dan bergaul.
Evelyn mengingatkan begitu banyak contoh arogansi Ahok yang mengakibatkan konflik dengan warganya sendiri. Misalnya, pemecatan terhadap Kepala Sekolah yang kemudian dianggap ilegal oleh pengadilan.
Selanjutnya, ada wanita yang dituduh maling uang Kartu Jakarta Pintar. Ahok juga pernah memaki pengusaha hotel yang menuntut keadilan karena tidak mampu membayar pajak akibat hunian hotel yang sepi.
Rakyat Jakarta juga masih ingat ketika seorang ibu tua yang menjadi pedagang kaki lima di Monas diseret seret oleh Satpol PP.
Lalu ada ribuan warga Jakarta yang digusur seenaknya dengan alasan menempati lahan milik negara. Di mata Evelyn Tan, tidak ada alasan yang pantas untuk memperlakukan manusia yang sudah puluhan tahun hidup di lahan tertentu secara tak manusiawi.
“Ini menjadi catatan bagi Kaum Perempuan Peduli Jakarta untuk mengimbau warga Jakarta khususnya. Saatnya untuk lebih cerdas dalam memilih pemimpin Jakarta pada tahun 2017,” jelas Evelyn.
Intinya, kata dia, Kaum Perempuan Peduli Jakarta mengajak para wanita untuk sadar, jangan memilih Ahok untuk melanjutkan kepemimpinannya di Jakarta.
“Kaum perempuan bisa mengawasi semua proses pilgub hingga perhitungan suara. Jangan sampai Ahok yang tidak ingin cuti kampanye itu melakukan kecurangan,” tandas Evelyn.
SUMBER pojoksatu.id